Prof. Dr. H. Mohammad Diah, M.Ed, Putra Kuantan Singingi : Rektor di Unri dan Umri

Selasa, 31 Januari 2023

(Alm). Mohammad Diah. (F:dok-ANews)

Oleh : Team Sahabat Jang Hitam

KUANTAN SINGGINGI sejak dulu  dikenal sebagai “gudang” penghasil para tenaga pendidik (guru), politisi, dan birokrat andal di Riau.  

Keberadaan tokoh penting di pucuk  jabatan eksekutif, legislatif maupun pimpinan utama  lembaga pendidikan formal di lingkup Perguruan Tinggi di Riau melengkapi  “simbol” Kuantan  Singingi  orang hebat sejak dulu.

Salah satu putra  terbaik Kuantan Singingi yang meraih jabatan pimpinan utama lingkup Perguruan Tinggi di Riau adalah  Prof. Dr. Drs. H. Mohammad Diah, M.Ed. Pernah menjabat rektor di dua perguruan tinggi berbeda di Pekanbaru, Riau yakni Universitas Riau (Unri) dan Universitas Muhammadiyah (Umri).

M. DIAH adalah tokoh yang berperan dalam memajukan pendidikan di Riau. Dilahirkan pada 10 Mei 1936 Desa Teluk Pauh, Kecamatan Pangean, Kuantan Singingi menghabiskan masa kecilnya di desa kelahirannya bersama ayah, ibu, kakak, dan adik-adiknya .

Kendati hidup sederhana, namun orang tua M. Diah, sangat peduli dengan pendidikan. Ayahnya Zainuddin hanyalah berprofesi sebagai petani dan ibunya Syofia berprofesi sebagai ibu rumah tangga biasa. Hidup di tengah suasana alam pedesaan yang nyaman dan asri, membawa keluarga ini ke dalam kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan.

M. Diah merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Kakaknya Risun, Jura dan Samsinar. Sedangkan adiknya adalah Dahlian dan Yurlis.

Kemiskinan tak membuat orang tuanya patah arang menyekolahkan anaknya. Sadar di kampung halamannya (Pangean) ketika itu belum ada sekolah,  orang tuanya “memaksa”M. Diah sekolah ke luar daerah.  

Jauh dari kampung halaman tak membuat M. Diah cengeng. Apalagi frustasi dan putus asa. Hari-harinya berjalan normal tanpa henti belajar.

Sedari kecil M. Diah sudah terbiasa merantau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang demi jenjang. M. Diah tercatat satu di antara deretan “putra dan putri  terbaik”asal Kuantan Singingi  yang melalui dan  menyelesaikan pendidikan tingginya di luar negeri.  

M. Diah melalui pendidikan Sekolah Rakyat di Baserah Kuantan Singingi pada 1943.  Kemudian Sekolah Guru Bawah di Bengkalis (1948) lalu melanjutkan Sekolah Guru Atas di Padang (1951). Sarjana mudanya di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan  (FKIP) Unri pada 1970 dengan gelar Bachelor of Arts  (BA).

Kemudian M. Diah melanjutkan kuliah di  Institut Keguruan  Ilmu Pendidikan (IKIP) kini  Universitas Negeri Malang, Jawa Timur untuk meraih gelar sarjana lengkap – doktrandus (Drs) pada 1975. Pada 1978-1982, M. Diah melanjutkan kuliah di University of Illinois at Chicago (UIC) Amerika Serikat.

Di salah satu kampus universitas negeri “terbaik” di Amerika Serikat menurut US News & World Report, M. Diah menyelesaikan gelar Master Education (M. Ed) dan Philosophy (Ph.D). Tercatat M. Diah adalah dosen Unri asal  Kuantan Singingi pertama yang meraih gelar Ph.D atau doktor dari negara adidaya yang sering disebut “Paman Sam” tersebut.

Dua anaknya Victor Ramadhani Alkahfi dan Asra Muhammad Diah pernah sekolah di Amerika Serikat.  
-----------------

PERJALANAN karier M. Diah sebagai pendidik diawali  pada 1957 ketika diangkat menjadi guru di SMP Pasir Pangaraian (dulu masih bergabung dengan Kampar-kini Rokan Hulu). Tidak lama mengajar di Pasir Pangaraian,  M. Diah pindah menjadi Kepala SMP Lubuk Jambi, Kuantan Mudik (1961-1964). Lalu pindah ke Pekanbaru, M.Diah diangkat menjadi Kepala SMP PGRI (1967-1972). Setelah itu menjadi Kepala SMPPN 49 (kini SMAN 8) Pekanbaru pada 1975-1976.

Kemudian M. Diah menjadi Dosen FKIP Jurusan Bahasa Program Studi  Bahasa Inggris Unri. Selama di Unri, M. Diah pernah menjadi Pembantu Dekan I Bidang Akademik FKIP Unri (1983-1989) dan   Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Perencanaan dan Sistem Informasi, Pembinaan serta Pelayanan pada Mahasiswa dan Alumni Unri (1989-1993).

Sejak 1978 hingga 1980 Unri dapat dikatakan sebagai masa peralihan dari sistem presidium kepada sistem rektor. Syahdan, ditunjuklah Drs. H. M. Farid Kasmy sebagai pejabat sementara Rektor Unri Pekanbaru. Baru pada 1980 Unri Pekanbaru mempunyai rektor definitif berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.148/M/1980.

Tercatat sebagai Rektor Unri adalah: Prof. Dr. H. Muchtar Lutfi (1980-1984 dan 1985-1989), Prof. Drs. H. M. Bosman Saleh, M.B.A (1989-1993),  Dr. H. Mohammad Diah, M.Ed. (1993-1997). Prof. Dr. H. Muchtar Ahmad, M.Sc (1997-2001 dan 2002-2006,  Prof. Dr. H. Ashaluddin Jalil, M.S. (2006-2010 dan 2010-2014),  Prof. Dr. Ir. H. Aras Mulyadi, DEA. (2014-2018 dan 2018-2022), dan Prof. Dr. Hj. Sri Indarti, S.E., M.Si (2022-sekarang).

M. Diah adalah  rektor kedua di Unri asal Kuntan Singingi. Yang pertama Prof. Dr. H. Muchtar Lutfi asal Beserah  (Kuantan Hilir) dan yang ketiga Prof. Dr. H. Aras Mulyadi D.E.A asal  Simandolak  (Benai). Rektor selanjutnya asal Kuantan Singingi, waktu jua yang akan menjawabnya.

M. Diah juga pernah menjabat Rektor  Universitas Umri periode 2010-2014.  Di perguruan tinggi yang didirikan oleh  Pimpinan Wilayah  Muhammadiyah Riau pada 2010 ini, estapet kepemimpinannya dilanjutkan oleh Dr. H. Mubarak, M.Si (2014-2018 dan 2018-2022) dan Dr. H. Saidul Amin, M.A (2022-2026). 
-----------------

KETIKA syukuran pengukuhan M. Diah sebagai Guru Besar/Profesor Emeritus Unri di Ballroom Meeting Room Hotel Sahid Pekanbaru, pada 2000 Gubernur Riau H. Saleh Djasit  menyebut sosok M. Diah sebagai  tua-tua Keladi, makin tua makin Berisi. Seiring dengan usianya yang makin menua, pengabdian M. Diah tidak pernah berhenti. 

“Atas nama  pribadi dan Pemerintah Provinsi Riau, saya mengucapkan selamat dan tahniah untuk senior, sahabat, dan guru saya M. Diah,” ujar Saleh Djasit ketika itu.

Sementara itu  Rektor Unri  Muchtar Ahmad  menyebut sosok M. Diah adalah pendidik sejati yang sangat peduli dengan pendidikan di Riau. Setelah “pensiun” dari  Rektor  Unri,   bersama dengan Pengurus Wilayah  Muhammadiyah Riau merintis pendirian Umri yang kini makin berkembang.

Ketika dikukuhkan sebagai Guru Besar/Profesor Emeritus di Unri usia M. Diah memang sudah 64 tahun. Sedangkan batas usia pensiun Guru Besar/Profesor Emeritus ketika itu 65 tahun, kemudian diperpanjang jadi 70 tahun sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2005 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Perpanjangan Batas Usia Pensiun Guru Besar dan Pengangkatan Guru Besar/Profesor Emeritus. 
-----------------

TAK hanya di dalam  negeri, M. Diah  Juga pernah mengajar pada Collage of Education, University of Kentucky  Amerika  Serikat pada 1987.  Universitas Kentucky adalah Universitas pendidikan publik terpadu di Lexington, Kentucky. Didirikan pada tahun 1865 oleh John Bryan Bowman sebagai Perguruan Tinggi Pertanian dan Mekanik Kentucky.

Lalu M. Diah  berkerjasama dengan PT. Caltex Pacifik Indonesia (CPI), mengggagas  pendirian Laboratorium Bahasa Unri di Kampus Binawidya KM 12,5 Simpang Baru-Panam.  Ketika itu sekitar tahun 1996  

M. Diah banyak bergaul dengan PT. CPI, M. Diah  menuangkan ide dan berbagai pemikiran bagaimana  mahasiswa dan dosen dapat secara langsung untuk belajar bahasa Inggris dengan cara mendengar (listening) dan membaca (reading).

PT. CPI memberikan dukungan penuh kepada M. Diah untuk memajukan pendidikan di Unri. PT. CPI bekerjasama dengan UNRI membangun fisik  Laboratorium Bahasa Unri. Sedangkan Personal Computer atau disingkat PC itu dibiayai oleh Unri.

M. Diah juga mengikuti Penataran dan Administrasi Perguruan Tinggi – kiprahnya ketika diangkat sebagai Kanwil Konsultan Bank Dunia berperan besar dalam pembuatan proposal untuk Bank Dunia. Kemudian dalam Proyek Pengembangan Pendidikan Tinggi. M. Diah diutus untuk mengikuti penataran perwakilan dari Unri pada 1983 di Hotel Cibogo, Subang (Jawa Barat).

Pernah menjadi fasilitator dosen untuk melanjutkan gelar master di perguruan tinggi di luar negeri ketika menjabat sebagai Rektor Unri dan berkerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri. Bagi M. Diah pendidikan adalah “nomor satu.”  

Baginya selagi mampu untuk mendapatkan pendidikan itu kenapa tidak dikejar.

M. Diah   bekeyakinan: “Pendidikan merupakan pilar penting dalam memberantas kebodohan.”

Selama menjabat sebagai Rektor Unri M Diah banyak memberikan kontribusi. Sebut saja berhasil memberangkatkan tiga dosen Unri melanjutkan pendidikan ke Unversitas Leeds atau University of Leeds  adalah salah satu perguruan tinggi utama di Leeds, West Yorkshire, Inggris.

Universitas Leeds merupakan anggota dari Russell Group dan ditempatkan di sepuluh besar perguruan tinggi Britania Raya untuk pembiayaan riset. Awalnya merupakan Sekolah Medis Leeds yang dibentuk pada 1831 dan mendapat status Universitas pada 1904.

Dari Universitas Leeds yang merupakan satu dari enam Universitas 'bata merah'  ini tiga dosen Unri masing-masing Drs. Marzuki M.Ed, Dr. Dahnilsyah, S.S. M.A  dan Flora Fita Farma, S.S., M.A berhasil meraih gelar master dan doktoralnya.
-----------------

DALAM  menggeluti dunia pendidikan, M. Diah dikenal sebagai orang yang sangat aktif, kreatif, dan peduli. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya prestasinya dan dipercayai oleh berbagai kalangan untuk memberikan ilmu sehingga ditunjuk sebagai pemateri dipelbagai seminar pendidikan dan beragam penghargaan yang diberikan kepadanya.

Sederetan prestasi dan penghargaan  yang disematkan kepada M. Diah  di antaranya adalah: Dosen Teladan I Unri, Tanda Kehormatan Satpalancana Karya Satya 30 tahun,  Penghargaan Workshop Pendidikan.

Selanjutnya Piagam Penghargaan Sebagai Pembawa Makalah dalam Lokakarya Pendidikan, dan Penghargaan Instruktur Teknik Pengajaran.

M. Diah juga  banyak menyampaikan pemikiran dalam pelbagai forum ilmiah. Pemakalah dalam Seminar Internasional Pendidikan Serantau JOM FKIP – Unri Volume 7 Edisi 1 Januari – Juni 2020. Pemakalah dalam Seminar Sehari Pemberdayaan Komite Sekolah,  Pembicara dalam seminar Forum Komunikasi Ikatan Pemuda Mahasiswa Riau se-Indonesia.  Sertifikat Apresiasi Atas Kepemimpin.

Semangat M. Diah dalam memajukan pendidikan sungguh luar biasa. Di luar kepribadiannya sebagai seorang pendidik, suatu ketika pernah diminta oleh orang-orang untuk terjun di dunia politik.

Tetapi M. Diah tidak terjun di dunia politik. Dunia pendidikan lebih mendarah daging bagi dirinya ketimbang terjun di dunia yang penuh dengan intrik itu.

Prinsip yang dipegang teguh  M. Diah yakni  ingin  bermanfaat untuk orang banyak terutama dalam dunia pendidikan begitu terpatri dalam dirinya. Dalam setiap kesempatannya  tidak pernah lepas dari kesibukannya di dunia pendidikan. Kepeduliannya  kepada - orang orang yang ingin berusaha dalam melanjutkan pendidikan, agar bisa sukses.

Sekian banyak amanat yang diembannya bukan karena diminta tetapi karena kepercayaan serta kepemimpinannya yang sangat dikagumi oleh orang banyak. Ia juga tak segan-segan membagi ilmu  kepada orang banyak untuk meningkatkan mutu pendidikan.
-----------------

M. DIAH meningggal dunia pukul 22.15 WIB  di Rumah Sakit Awal Bros, Pekanbaru, Selasa 24 Februari 2015 di usia 79 tahun.  M. Diah yang   mempersunting gadis pujaannya di desanya Syafrilinar Abdys meninggalkan 6 orang buah hati. Yakni Ir. Mas Berry Diah, Hj. Veni Maria Aprya, S.E, Ir. Esfiera Nova Diah, Dra. Fangiana Syafitri Diah, M.Ed, Victor Ramadhan Alkahfi, S.H, dan Asra Mohammad Diah, S.Kom,

Di mata seorang sejawat, Prof. Dr. H.  Muchtar Ahmad, M.Sc sahabatnya M. Diah adalah sosok pendidik yang pantas menjadi teladan bagi siapa saja dan tidak segan-segan memberikan ilmunya kepada orang lain. “Riau sangat kehilangan dengan kepergian M Diah. Ya…, ini sudah kehendak Allah. Kita semua berasal dari-Nya dan  pasti akan kembali kepada-Nya," ungkapnya.

Sedangkan di mata Wakil  Rektor I Bidang Akademik  Umri (2014- 2018)  dan Wakil Rektor 3 Bidang  Kemahasiswaan  Umri (2018 – 2022). dr. H. Taswin Yacub, Sp.S,   menilai M. Diah adalah sosok yang peduli masalah pendidikan, baik ketika memimpin Unri maupun Umri.

Menurut Taswin,   gaya kepemimpinan M. Diah yang humble, lembut, bersahaja, dan kebapakan serta dekat dengan semua kalangan membuat dirinya disegani dan dikagumi mahasiswa dan teman-teman sesama dosen.  Hal ini juga ditunjang oleh kemampuannya berbahasa Inggris.

Dalam hubungan kekerabatan lanjut Taswin, M. Diah merupakan “bagito” di Kenegerian Sentajo dengan orang tuanya dan saudara-sudaranya. “Bapak saya (Yacub) juga sama sekolah di Batusangkar dengan abang beliau (Ali Usman). Kelak Ali Usman di Kenegerian Pangean dikenal sebagai guru agama (ustadz). Kami sekeluarga kalau bulan puasa selalu saling mengunjungi  “babuko basamo” baik di Pangean maupun di Sentajo.”  

Taswin mengakui punya kedekatan khusus dengan keluarga M. Diah yang kini masih terjalin dengan baik.  Ketika melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah mengambil Spesialis Syaraf, dirinya pernah menerima kunjungan M. Diah dan istri Syafrilinar Abdys serta keluarganya.

“Waktu itu anak tertuanya Ir. Masberry Diah yang akrab disapa  Berry nikah di Semarang (Jawa Tengah). Berry turun dari rumah kami yang tergolong sederhana dan jauh dari kesan mewah itu. Sebelum mengantar Berry ke rumah pengantin perempuan, kami syukuran kecil-kecilan dulu di rumah kami.  Sebelum pulang ke Pekanbaru beliau tinggal beberapa hari di rumah kami. Betapa indahnya suasana kekeluargaan itu,” ujar Taswin asal Kampung Baru Sentajo, Sentajo Raya ini.

Di tilik dari perjalanan hidup kedua tokoh Riau asal Kuantan Singingi,  M. Diah dan Taswin mempunya banyak kesamaan.  Sama-sama peduli dengan dunia pendidikan,  bergabung dalam organisasi Muhamamdiyah yang ikut merintis  pendirian dan  pengembangan Perguruan Tinggi  Umri di Pekanbaru.  Kesamaan lain, sama-sama tidak tertarik dengan dunia politik.

Dalam pandangan  NURSAL,  M. Diah adalah sosok yang sangat peduli dengan pendidikan.  Orangnya juga lembut tapi bersahaja. Ucapan yang keluar dari mulutnya penuh makna. “Pak Diah adalah guru yang tak pernah menggurui dan patut diteladani,”  ujar Nursal asal  Sentajo yang pernah tinggal di rumah M. Diah waktu sekolah SMP di Pekanbaru.

Sementara itu anggota DPRD Riau dari PAN, Dr.   Mardianto Manan, M.T menyebut M. Diah sosok motivator ulung yang memacu dirinya untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mardianto Manan mengaku mengenal  sosok M. Diah ketika duduk dibangku SMP di Pangian. Waktu itu tahun 1984 ada pertemuan dengan M. Diah di Mesjid At Taqwa Pasarbaru Pangean. 

“Dengan menggunakan seragam SMP kami memenuhi undangan untuk mendengarkan pidato “orang besar Pangean”  bergelar doktor yang baru pulang dari Amerika di mimbar Mesjid At Taqwa.  Pak Diah bercerita tentang masa kecil dan sekarang serta buat kami ke depan,” ujarnya

Ketika sesi tanya jawab  kata Mardianto Manan, hanya dirinya yang percaya diri dan berani tampil ke depan bertanya.  Yang lain? “Hanya  bagak  di luar saja alias tak punya nyali. Mardianto  Manan dilawan, putus semua...putus... Hahaha”

“Saya  bertanya cita-cita saya kedepan mau menjadi doktor yang hebat seperti beliau.  Alhamdulillah doktor sudah tercapai namun hebatnya belum,”  je;as doktor Ilmu Lingkungan Unri  ini mengingat kembali masa lalunya.

Menurut Mardianto Manan,  hebat yang dimaksud adalah  M. Diah  meraih gelar Guru Besar/Profesor Emiritus  sementara dirinya belum.  Hebatnya lagi M. Diah  pernah menjadi rektor di dua perguruan tinggi berbeda di ibukota Provinsi Riau: Unri dan UMRI. Sementara dirinya hanya menjadi Ketua di Sekolah Sekolah Tinggi Teknologi Swarnadwipa Kuantan Singingi di Telukkuantan.

“Pak Diah adalah salah seorang guru, motivator, dan mentor yang saya banggakan,”  ujar MM sapaan akrab pria yang rambutnya mulai memutih - kendati tiap minggu disemir istri tercinta - suatu pertanda  usianya sudah menua namun semangatnya masih kelihatan muda menggelora dan terlihat gagah ini.

"Usia boleh tua, semangat tetap anak muda. Jangan kasih kendur..." katanya  semangat.

Lalu kapan Mardianto Manan meraih gelar Guru Besar/Profesor Emiritus menyusul M. Diah? Mardianto Manan hanya tersenyum. “Masih jauh panggang dari api, hahahahah,” ujarnya tersenyum ramah.
-----------------

SEBAGAI bukti intelektualnya, M. Diah juga menulis dan menterjemahkan sejumlah buku ilmiah. Sebut saja “Sastra Islam Melayu Riau:  Bentuk, Fungsi dan Kedudukannya”  yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Melayu, 1986/1987.

Sedangkan  buku terjemahannya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia di antaranya buku: “Mitos dan Kelas Penguasa Melayu.”

Kedua buku tersebut hingga sekarang masih menjadi acuan  bagi peneliti dan mahasiswa yang melakukan penelitian  khususnya tentang Melayu Riau.

Sebagai perhormatan atas dirinya namanya  diabadikan sebagai Nama GEDUNG M. DIAH diambil dari nama Rektor Unri periode 1993-1998 yang berasal dari fakultas pencetak calon pendidik itu. Gedung M. Diah diresmikan 14 Januari 2023  oleh Rektor Unri, Prof. Dr.  Sri Indarti, M.Si.  

Gedung M. Diah melengkapi  nama setiap fakultas di Unri memiliki gedung representatif dengan nama tokoh di fakultas masing-masing. Sebelumnya, adapun Gedung “Bosman Saleh” dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Gedung “Sutan Balia” di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Biografi  M. Diah  Sebagai tokoh Pendidikan Riau  juga pernah ditulis oleh Resi Dewi Anggraini, Prof. Dr. Isjoni, M.Si, dan Drs. Tugiman, MS tahun 2020. Tulisan ketiga dosen Program  Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unri  bisa dilihat  di: Jom FKIP - UR Volume 7 Edisi 1 Januari - Juni 2020.

M. Diah memang telah meninggal dunia. Namun karyanya dan semangatnya dalam mencerdaskan anak bangsa tetap terpatri dalam relung hati yang paling dalam masyarakat di Riau.

Do'a kami selalu menyertaimu, Pak M. Diah. 

 

Publishedby: Forum IKKS/Iwakusi Indonesia