
Oleh: Cucuang tuak Leman
SUASANA angin sepoi dan kecerahan sunset yang berangsur meredup membuat diskusi "cito kampuang" semakin seru di lesehan Warung Senja Yogyakarta, Sabtu (19/7/2025).
Konsep lesehan "kodai" yang diusung Warung Senja memang berbeda dengan kebanyakan warung sejenis di Negeri Sultan Hamengkubowono. Jika warung lain hanya menyuguhkan gurihnya makanan khas Jogja, Warung Senja justru fokus mengajak pengunjungnya kembali ke alam, duduk sambil menikmati makanan dan aneka camilan khas Jogja yang tentu "lomak" dengan harga murah, lesehan atau "baunjuar" di tengah sawah, di ate "bondar barayiar" di tepi ladang.
Sang Pemilik, Abdul Kholik, asal Pangian Kuantan Singingi sore itu di tengah kesibukannya masih menyempatkan diri untuk menjamu dan berdiskusi panjang dengan Cucuang Tuak Leman yang mampir dalam lawatannya ke Jogja mengantar sang putri sulung melanjutkan SMA di Kota Gudeg. Cucuang Tuak Leman tak sendiri, turut hadir juga Roberdi Mudasin, seorang Pakar Pemuliaan Tanaman, Dosen sekaligus pengusaha asal Banjar Lopak Siberakun yang tinggal di Jakarta.

Diskusi bernas sore itu tentu tak lepas dari viral nya tarian aura farming "tukang tari jaluar" Rayyan Dhika asal Kenegerian Kari Kuantan Singingi yang mendunia. Karena bukan saja pesohor dunia seperti Melly Mike, Joe Hattab, Marc Marquez, Travis Kelce, Steve Aoki, dan Wiz Khalifa, bahkan merek top dunia Adidas serta Klub Papan Atas AC Milan, PSG, dan Munchester City pun tak ketinggalan bergaya bak Dhika si bocah tukang tari jaluar.
"Kuantan Singingi tu nagori keramat, titiak, jan kilen tanyo lai," ungkap Cucuang Tuak Leman bangga "nopuak dado"."
Pengakuan "ongeh" tersebut tak ditampik Kholik dan Roberdi.
"Cuma potensi seksi ini perlu dimanfaatkan dengan maksimal oleh masyarakat Kuansing, karena wisata budaya seperti ini tak ada lawannya di dunia," ujar Kholik yang sudah lebih dari 20 tahun berkiprah menjual potensi wisata Jogja.
"Sudah saatnya kita merubah pola pikir bahwa wisata itu selalu identik dengan keindahan alam, gunung, air terjun dan pantai. Justru "urang barat" (turis manca negara) lebih suka sama suguhan event budaya. Apalagi seperti Pacu Jalur yang sudah ada sejak jaman mondek dari niniak datuak moyang Bapak ambo dulu," papar Kholik yang membuat Cucuang Tuak Leman membisu.

"Prinsip para turis itu sebenarnya sederhana, apa yang mereka lihat (see) apa yang mereka rasakan (feel) baru akan menentukan apa yang akan mereka beli (buy) dari kunjungan nya ke Kuansing," jelas Kholik dengan mimik serius.
Tak mau kalah Roberdi ikut menimpali; sebagai masyarakat sebaiknya tidak usah berpikir berat-berat dulu seperti memikirkan bagaimana hotel bintang, bagaimana tribun pacu mewah, bagaimana jalan mulus, biarkan itu berproses dengan sendirinya, yang penting kunjungan wisatawan ke Kuansing bisa konsisten bertahan dan terus meningkat.
"Makanya perlu selalu ada event berkesinambungan, selain Pacu Jalur perlu juga digalakkan event budaya lain di kampung-kampung. Di Jogja kami rutin melakukan itu; Festival Kampung Srawung, Tebing Breksi misalnya. Itu lah yang bisa dijual ke berbagai penjuru dunia. Randai, Kayat, Robab, Saluang, Barudah dan suguhan budaya khas Kuansing lainnya itu seksi sekali. Sehingga tak susah bagi kita untuk menggandeng penggiat wisata, atau asosiasi tour seperti ASITA, PHRI dan sejenisnya yang memang kerjaannya menjual paket wisata. Apalagi sekarang pengaruh social media juga akan sangat membantu," ujar Kholik sembari menyeruput minuman "tang sorai congkeh kapulago madu lobah" racikan warungnya.
"Ndeeeh tu iyo re e, brarti lopek inti, lopek pisang, cinduar gulo onaw, guajik, galamai, konji nak lobah, dan karupuak sagu laris ma rak. Copek lah Pemda, atau IKKS fasilitasi praktisi pariwisata go menurunkan ilmunyo ka kampuang, undangnyo. Poniang palo den ma," ujar Cucuang Tuak Leman tensi????. ***
Penulis, adalah perantau Kuansing sekaligus pemerhati budaya Kuansing