
Area Manager EMP Bentu Limited, Yoyok S Purwanto (empat dari kanan) bersama SKK Migas Sumbagut dan Dinas ESDM Riau ketika menjadi pembicara Seminar Energi Nasional di Kampus Universitas Riau. (HNS/ANews)
PEKANBARU (ANews) - Bayangkan, 15 tahun dari sekarang, jalanan Indonesia tak lagi dipenuhi deru knalpot motor bensin. Tahun 2040, pemerintah menargetkan sepeda motor berbahan bakar fosil tak lagi diperjualbelikan. Era kendaraan listrik diproyeksikan menjadi arus utama, sebuah langkah besar menuju ambisi Indonesia meraih Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Peta jalan energi ini dipaparkan Yoyok S. Purwanto, Area Manager EMP Bentu Limited, dalam Seminar Energi Nasional yang digelar Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Universitas Riau di Aula Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Faperika) UNRI, Kamis (28/8/2025). Acara yang dihadiri mahasiswa, akademisi, dan pejabat daerah ini menjadi ruang diskusi hangat tentang masa depan energi Indonesia.
Selain Yoyok, tampil juga sebagai pembicara Koordinator Formalitas dan Komunikasi SKK Migas perwakilan Sumbatra bagian Utara (Sumbagut), Muhammad Rochaddy Lubis dan
Menurut roadmap Kementerian ESDM, langkah besar ini dimulai sejak 2024, ketika perdagangan karbon diberlakukan, pembatasan emisi CO? di PLTU mulai dijalankan, dan pembangunan PLTU baru resmi dihentikan.
Pada 2040, energi terbarukan diproyeksikan mendominasi 71 persen bauran energi nasional. Di tahun itu pula, seluruh PLTD berbahan diesel akan berhenti beroperasi, dan motor konvensional -- ikon transportasi rakyat selama puluhan tahun -- akan resmi hilang dari pasar.
Transisi berlanjut pada 2045, saat pemerintah memulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas 35 GW hingga 2060. Sementara pada 2050, porsi energi terbarukan diperkirakan sudah menembus 87 persen, beriringan dengan penghentian penjualan mobil berbahan bakar fosil.
Puncaknya, 2060, Indonesia menargetkan seluruh kebutuhan energi dipasok dari energi terbarukan 100 persen, dengan konsumsi listrik per kapita naik hingga 5.308 kWh per tahun.
“Gas bumi tetap berperan sebagai energi transisi yang penting, tapi fokus kita jelas: mempercepat adopsi energi terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Yoyok.
Peran EMP Bentu
Di tengah transisi energi, perusahaan migas masih punya peran strategis. EMP Bentu Limited, bagian dari Energi Mega Persada Tbk, saat ini mengoperasikan blok Bentu PSC di Riau yang menyuplai gas bumi untuk kebutuhan industri dan masyarakat.
“Gas tersebut disalurkan ke PLN Pekanbaru, Pertamina RU II Kilang Dumai, PT RAPP serta untuk jaringan gas rumah tangga di Pekanbaru, Dumai dan Pangkalan Kerinci. Khusus untuk jaringan gas ini sudah masuk ke dalam peta jalan NZE pemerintah,” kata Yoyok.
Selain blok Bentu, Energi Mega Persada juga memiliki portofolio besar: 13 blok migas di Indonesia termasuk satu blok di luar negeri. Posisi ini menegaskan kiprah perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menopang transisi menuju energi bersih.
Bagi mahasiswa yang hadir, peta jalan menuju energi bersih ini bukan sekadar teori. Muhammad Afif, mahasiswa Ilmu Komuniasi, mengaku merasa optimistis sekaligus tertantang.
“Dulu motor BBM itu simbol kebebasan anak muda. Bayangkan nanti tahun 2040, kita sudah beralih ke motor listrik. Hidup akan berubah, tapi justru lebih sehat dan ramah lingkungan. Tantangan kami sebagai mahasiswa adalah menyiapkan diri menghadapi era baru ini,” katanya.(HNS/ANews)