EMP Energi Riau Resmikan Proyek Power Conversion di GS Binio untuk Efisiensi OPEX dan Pengurangan Emisi Karbon

Sabtu, 27 Desember 2025

Manajemen PT EMP Energi Riau meresmikan proyek power conversion dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke pasokan listrik PLN. (F: EMP Energi Riau/ANews)

RAKIT KULIM - PT EMP Energi Riau meresmikan proyek power conversion dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke pasokan listrik PLN sebagai langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi biaya operasional (operating expenditure/OPEX) sekaligus mengurangi emisi karbon di Gathering Station (GS) Binio. Peresmian proyek tersebut dilaksanakan di GS Binio, Desa Talang Sungai Limau, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, Senin (22/12/2025), sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan operasional perusahaan sepanjang tahun 2025.

 

Kegiatan ini dihadiri Manager UP3 Rengat Bapak Tatok Winarko dan Manager ULP Air Molek Andri Salim dari PT PLN (Persero) beserta jajaran, sebagai bentuk sinergi antara perusahaan hulu migas dan penyedia energi nasional dalam mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional.

General Manager PT EMP Energi Riau, Yoyok S. Purwanto, menyampaikan bahwa proyek power conversion tersebut merupakan langkah penting dalam meningkatkan keandalan operasional sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon melalui penghentian penggunaan diesel generator dan beralih ke listrik yang disuplai PLN.

“Program ini menjadi bagian dari inovasi berkelanjutan perusahaan untuk mengendalikan biaya operasional secara efektif, tanpa mengesampingkan aspek keselamatan kerja, kualitas operasional, serta kepatuhan terhadap ketentuan dan regulasi yang berlaku,” ujar Yoyok.

Ia menjelaskan, sebelumnya GS Binio menggunakan listrik dari diesel generator dengan biaya operasional tahunan mencapai sekitar 1 juta dolar AS dan konsumsi solar sekitar 750 kiloliter per tahun. Perbedaan frekuensi listrik PLN sebesar 50 Hz dengan kebutuhan operasional Lapangan Binio sebesar 60 Hz menjadi tantangan tersendiri dalam proyek ini.

 

“Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan memasang Power Grid Frequency Converter berkapasitas 500 kVA yang berfungsi mengubah frekuensi listrik dari 50 Hz menjadi 60 Hz. Teknologi ini menjadikan EMP Energi Riau sebagai pionir penerapan frequency converter di industri hulu migas,” jelasnya.

Dengan beroperasinya proyek power conversion ini, perusahaan mencatat penurunan biaya pembangkitan listrik hingga 76 persen di GS Binio, serta pengurangan emisi karbon setara 1.484 metrik ton karbon. Selain itu, program ini juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat melalui pengurangan sumber kebisingan di area operasional. (HNS)