Opini

Kediri Punya Rokok, Kuansing Punya Sawit

Oleh: Hendrianto.

DI KEDIRI, ada Gudang Garam. Perusahaannya raksasa. Dampaknya luar biasa. Satu kota hidup dari sana. Ekonomi berputar. Kemiskinan minggir.

Padahal, Kediri bukan daerah penghasil tembakau terbesar. Tapi mereka punya pabriknya. Mereka melakukan hilirisasi. Mereka tidak hanya menjual daun kering. Mereka menjual produk jadi.

Sekarang lihat Kuansing. Sejauh mata memandang hanya hijau sawit. Jutaan batang. Ribuan hektare.
Tapi, apa yang didapat daerah?

Setiap hari, truk-truk besar melintas. Membawa TBS. Membawa CPO. Debu jalannya ditinggal untuk warga. Aspalnya hancur dilewati beban berat. Hasilnya? Dibawa keluar. Diolah di tempat lain. Dijual lagi ke kita dalam bentuk kemasan.

Kita punya kebun, tapi beli minyak goreng merek orang. Aneh.

Kenapa Kuansing tidak jadi sentra industri minyak goreng saja? Modalnya sudah ada. Bahan baku melimpah. Sangat melimpah. Tidak perlu pusing mencari suplai. Tinggal petik, olah, kemas.

Bayangkan kalau ada pabrik minyak goreng besar di Teluk Kuantan. Ribuan anak muda Kuansing tidak perlu ke Pekanbaru atau Jakarta untuk cari kerja. Cukup di kampung sendiri.

Dampaknya pasti dahsyat. Warung nasi laku. Kos-kosan penuh. Pajak daerah naik berkali-kali lipat. Jalanan rusak bisa diperbaiki dengan uang sendiri. Tidak perlu mengemis ke pusat.

Tentu, ini butuh nyali. Butuh pemimpin yang "gila" ide. Yang bisa merayu investor. Atau, yang berani menggerakkan BUMD secara profesional. Bukan BUMD yang isinya cuma titipan jabatan.

Kediri sudah membuktikannya. Sebuah kota bisa makmur karena industri. Kuansing punya peluang yang sama. Bahkan lebih besar. Karena semua orang butuh minyak goreng. Tiap hari.

Jangan sampai kita hanya jadi penonton. Menonton truk lewat di depan mata, sambil memegang botol minyak goreng buatan orang luar.

Kapan "Minyak Goreng Kuansing" masuk dapur kita?

Tergantung nyali kita sekarang. (***)

(Penulis merupakan warga Kuansing yang aktif di media sosial)



Tulis Komentar