Penentuan Arah Kiblat

Matahari di Atas Ka'bah, Kita Bisa Ukur Kiblat yang Akurat 27 Mei - 29 Mei Pukul 16.18 Wib

Umat Islam se-Dunia tengah menjalankan ibadah di Masjidil Haram. Pic.Merdeka/ANews

Jakarta (ANews) - Mengetahui arah kiblat menjadi hal yang penting bagi umat muslim untuk menentukan ke arah mana yang paling akurat menghadap saat menjalankan ibadah salat. Untuk diketahui, arah kiblat yang menjadi acuan umat muslim saat beribadah adalah arah letak Ka'bah berada. 

Sementara di Indonesia sendiri, tidak sedikit yang memperbincangkan tentang arah kiblat yang telah bergeser dari sebelum-sebelumnya. 

Astronom amatir Marufin Sudibyo mengatakan bahwa ada cara yang baik untuk menentukan arah kiblat dengan tepat yaitu dengan memanfaatkan fenomena matahari di atas Ka'bah. 

Marufin berkata, pada saat matahari tepat berada di atas Ka'bah ini juga menjadi momen yang sangat baik untuk menentukan arah kiblat. 

"Secara turun temurun dijadikan metode paling akurat dan efisien dalam menentukan arah kiblat suatu tempat karena tinggal menyesuaikan dengan bayangan benda," kata Marufin seperti dilansir dari Kompas.com (27/05/2020). 

Menurut Marufin, mengukur arah kiblat dengan matahari yang berkedudukan di atas Ka'bah adalah teknik pengukuran yang dianggap paling akurat secara keilmuan. 

"Jauh melebihi akurasi penggunaan GPS ataupun kompas magnetik," tutur dia. Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatur posisi tepat arah kiblat terbilang cukup mudah. 

Cukup posisikan sebuah benda secara vertikal sehingga tegak lurus dengan permukaan air setempat.

Dalam praktiknya digunakan sebuah bandul atau pendulum yang cukup berat dengan tali yang kukuh sehingga stabil saat kena getaran atau hembusan angin. 

Pada 27, 28 dan 29 Mei 2020 pukul 16.18 WIB, biarkan bandul berada di bawah paparan sinar Matahari. Lantas, taruh bayangan tali bandul di dua titik berbeda. Tarik garis lurus di antara dua titik itu dan posisikan menghadap ke Matahari, maka pada dasarnya kita sudah menghadap kiblat dengan akurasi sangat tinggi.  

Selain untuk membetulkan arah kiblat, posisi Matahari di atas Ka'bah ini, khususnya pada akhir Mei, bersesuaian dengan saat rasi Waluku ada di atas kaki langit barat pada ketinggian rendah setelah Matahari terbenam. 

"Dan masih bisa dikenali khususnya oleh yang berpandangan tajam," ujar Marufin. 

Rasi Waluku memiliki nilai signifikan dalam budaya Indonesia khususnya Jawa. Hal itu dikarenakan, kemunculannya di langit barat pasca terbenamnya Matahari menjadi pertanda berakhirnya musim panen dan siap-siap dengan peralihan musim menjadi kemarau. 

"Meski acuan ini tidak terlalu akurat karena perubahan musim dipengaruhi oleh perubahan iklim," tutur dia. ZET



[Ikuti AmanahNews.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar