Nasional

Erupsi Anak Krakatau Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi dan Kesiapan Evakuasi Darurat

JAKARTA ( ANews) – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam beberapa hari terakhir menjadi pengingat penting bagi perusahaan untuk memastikan kesiapan menghadapi kondisi darurat. Bencana tidak hanya berpotensi mengancam keselamatan manusia, tetapi juga dapat berdampak terhadap fasilitas, mobilitas pekerja, aktivitas operasional, hingga keberlangsungan bisnis.

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi Badan Geologi hingga 7 September 2026, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Episode erupsi terus-menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, namun aktivitas vulkanik masih terus dipantau karena tingkat kegempaan masih tinggi dan kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih dinilai tinggi.

Potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Masyarakat, pengunjung, wisatawan dan pendaki juga direkomendasikan untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dimulai ketika bencana telah terjadi. Perusahaan, terutama yang beroperasi di wilayah dengan paparan risiko bencana, perlu memiliki sistem mitigasi, prosedur evakuasi, personel terlatih, jalur komunikasi, serta Emergency Response Team (ERT) yang mampu mengambil tindakan secara cepat dan terkoordinasi.

Panji Baskoro, Security Response Department Head PT Nawakara Perkasa Nusantara, mengatakan bahwa mitigasi menjadi tahapan penting untuk menekan risiko sebelum keadaan darurat berkembang menjadi situasi yang lebih besar.

“Dalam kondisi darurat, beberapa menit pertama sangat menentukan. Karena itu, perusahaan harus mengetahui risiko yang dihadapi, siapa yang mengambil keputusan, bagaimana informasi disampaikan, ke mana pekerja harus bergerak, serta bagaimana proses evakuasi dilakukan secara aman. ERT harus mampu memastikan seluruh proses tersebut berjalan terstruktur dan tidak menimbulkan kepanikan,” ujar Panji.

Mitigasi Dimulai Sebelum Kondisi Darurat
Menurut Nawakara, mitigasi perlu dimulai melalui risk assessment terhadap lokasi kerja dan potensi ancaman di sekitarnya. Perusahaan perlu memastikan ketersediaan Emergency Response Plan, jalur dan peta evakuasi, titik kumpul (assembly point), sistem peringatan dini dan komunikasi darurat, perlengkapan P3K, masker serta alat pelindung diri, hingga daftar pekerja dan kelompok yang membutuhkan bantuan khusus saat evakuasi.

Khusus menghadapi paparan abu vulkanik, aktivitas di luar ruangan perlu dibatasi dan penggunaan masker perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan. Perusahaan juga perlu mengantisipasi dampak abu terhadap fasilitas, kendaraan, mesin, ventilasi, dan perangkat elektronik yang dapat memengaruhi aktivitas operasional.

Informasi mengenai perkembangan bencana harus bersumber dari otoritas resmi agar keputusan operasional tidak didasarkan pada informasi yang belum terverifikasi.

Proses Evakuasi Harus Terukur dan Terkoordinasi
Ketika kondisi dinyatakan memerlukan evakuasi, ERT mengaktifkan prosedur tanggap darurat dengan melakukan verifikasi ancaman serta berkoordinasi dengan manajemen dan otoritas terkait. Informasi dan instruksi evakuasi kemudian disampaikan melalui sistem komunikasi darurat yang telah ditentukan.

Personel ERT selanjutnya mengarahkan pekerja melalui jalur evakuasi menuju assembly point atau lokasi aman, dengan memprioritaskan pekerja yang membutuhkan bantuan khusus. Apabila kondisi memungkinkan, penyisiran area dilakukan untuk memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal.

Setibanya di titik kumpul, dilakukan head count atau pendataan personel untuk memastikan seluruh pekerja telah terevakuasi. Apabila terdapat pekerja yang belum teridentifikasi, informasi segera diteruskan kepada tim terkait untuk dilakukan pencarian dengan tetap mempertimbangkan tingkat risiko dan keselamatan petugas.

ERT juga memberikan pertolongan pertama dan triase awal apabila terdapat korban, serta berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan, pemadam kebakaran, BPBD, aparat maupun instansi terkait apabila diperlukan. Pekerja tetap berada di lokasi aman hingga terdapat informasi resmi bahwa situasi memungkinkan untuk kembali atau diperlukan relokasi menuju lokasi yang lebih aman.

“Evakuasi bukan sekadar memindahkan orang dari satu lokasi ke lokasi lain. Harus ada komando, jalur yang aman, komunikasi, pendataan personel, penanganan korban, hingga koordinasi dengan pihak eksternal. Semua itu harus dilatih melalui emergency drill sehingga ketika situasi sebenarnya terjadi, setiap orang memahami apa yang harus dilakukan,” tambah Panji.

Membangun Kesiapan Melalui Emergency Response Team
Melalui layanan Emergency Response Teams (ERT), Nawakara mendukung perusahaan dalam membangun kesiapan menghadapi berbagai kondisi darurat melalui identifikasi dan asesmen risiko, penyusunan Emergency Response Plan, kesiapan personel respons, simulasi dan emergency drill, dukungan evakuasi, penanganan awal insiden, hingga koordinasi respons di lapangan.

Keberadaan ERT menjadi bagian penting dalam membangun sistem keamanan dan keselamatan yang lebih adaptif terhadap berbagai risiko, termasuk bencana alam, kebakaran, kecelakaan kerja maupun kondisi darurat lainnya yang berpotensi mengganggu operasional perusahaan.

“Emergency response yang efektif selalu dimulai jauh sebelum keadaan darurat terjadi. Semakin baik mitigasi, latihan dan koordinasi yang dibangun, semakin besar kemampuan perusahaan untuk melindungi pekerja, aset, serta menjaga keberlangsungan operasionalnya,” tutup Panji.

Nawakara mengimbau perusahaan dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti perkembangan dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi/PVMBG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah terkait. Masyarakat yang terdampak abu vulkanik direkomendasikan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker, serta tetap mengikuti arahan petugas dan tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi. (*/ Rls)



Tulis Komentar