Tak Surut Langkah Dampingi Siswa ABK Riau

Guru Ranti Datangi Siswa Door to Door 

RANTI Elvira guru SMPN 2 Mempura yang mengajar siswa-siswi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), di masa pandemi Covid-19 mengajar secara door to door.(ft:kompas/ANews)

Siak (ANews) - Demi meminimalisir penularan virus Covid-19, pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) sudah menjadi keputusan pemerintah untuk mengatasinya. Namun, pelaksanaan PJJ membawa tantangan baru bagi guru di SMPN 2 Mempura, Siak, Riau, terutama dalam memberikan layanan pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). 

Awalnya Ranti Elvira selaku guru SMPN 2 Mempura sudah mencoba untuk membagikan materi yang ada di grup kelas lewat aplikasi Whatsapp (WA), tetapi hal tersebut tidak efektif. 

"Jangankan mengikuti materi yang kami bagikan di WA group kelas, absen saja tidak dibaca. Saya pernah menelpon dan malah di-reject. Materi tidak dibaca dan tidak ditanggapi," ceritanya Jumat (9/10/2020) seperti dikutip dari Kompas.com. 

Dirinyapun sadar bahwa guru harus memiliki kesabaran dan ketelatenan di masa PJJ untuk mengajarkan siswa berkebutuhan khusus. Kedua guru di SMPN 2 Mempura, Ranti bersama dengan Irwan pun mencoba untuk mengatasi masalah tersebut dengan mendatangi siswa ke rumahnya. 

“Agar siswa terpenuhi hak belajarnya, saya dan Pak Irwan door to door mendatangi rumah siswa. Saya sebagai wali kelas juga menanyakan kendala dan memberikan opsi untuk solusinya, sementara guru mata pelajaran ada yang door to door untuk memberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD),” ujar Ranti. 

Akan tetapi, Ranti juga menyampaikan kesulitannya saat menuju rumah pelajar yang ada di sekitar hutan dan kebun sawit. 

“Kalau musim hujan saya harus menyiapkan sepatu boots karena di daerah sana sering banjir. Hal ini dikarenakan mayoritas wilayahnya lahan gambut. Jadi kalau hujan air menggenang sampai setinggi lutut orang dewasa,” katanya. 

Selain kondisi lingkungan, Ranti menjelaskan bahwa tatangan terbesar untuk menghadapi peserta didik ABK adalah kepedulian orangtuanya. 

“Tantangan terbesar adalah kepedulian orang tua terhadap PJJ yang sedang kita laksanakan. Perhatian dan peran serta orang tua dalam mendampingi siswa ABK sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang siswa,” imbuhnya. 

Terlebih pada kondisi keluarga salah satu dari 8 siswa berkebutuhan khusus di sekolahnya yang mengalami perpecahan atau broken home. 

“Hal ini (broken home) yang diduga kuat menyebabkan ananda (anak) tidak peduli dengan dunia luar. Misalnya tidak peduli dengan pelajaran di sekolah, tidak mempan dinasihati atau pun dimarahi orang tuanya,” jelas 

Antara Guru untuk Hadapi Pandemi Penerapan metode pengajaran ABK Pengajaran bagi siswa berkebutuhan khusus tidak bisa disamakan dengan peserta didik pada umumnya.

Dalam materi pembelajaran ABK semasa pandemi Covid-19, Ranti menerapkan manajemen MAU atau Mengondisikan, Aktifkan, dan Umpan balik dan MIKIR atau Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi. 

“Secara konsep sebenarnya pembelajaran aktif tetap bisa ditujukan untuk ananda ABK. Meski dengan berbagai penyesuaian. Hanya dalam pelaksanaannya, kita harus lebih banyak memberikan motivasi dan bimbingan secara langsung,” tuturnya. 

Untuk memaksimalkan pengajaran saat pandemi, Ranti pun menanyakan kondisi salah satu siswa dengan keistimewaan suka menyendiri dan lamban dalam belajar yang bernama Aidil Fitriansyah. 

“Saya memulai pembelajaran dengan menanyakan ke Aidil, kenapa tidak merespons sama sekali di WA group. Saya juga berdiskusi dengan orang tuanya. Setelah mengetahui persoalannya, saya mulai menyampaikan materi pelajaran,” ujarnya. 

Saat ada di rumah Aidil, Ranti pun menanyakan materi seni rupa yang sudah Aidil pelajari sebelumnya. Akan tetapi, Aidil tidak bisa menjawab satu pun pertanyaan dari Ranti sehingga ia pun menjelaskan pelajaran seni rupa kembali. Pertama, Ranti mengajak Aidil untuk mengenal barang-barang yang ada di rumahnya dalam menerapkan tahap mengalami. 

“Sebelum masuk ke materi jenis-jenis seni rupa, saya mengajak Aidil melihat barang-barang di sekitar rumahnya dan memintanya menjelaskan fungsi barang tersebut. Aidil berhasil menjelaskan barang berikut fungsinya dengan cukup baik, seperti foto, lemari, kursi, meja, dan tempat tidur,” jelasnya. 

Dalam prosesnya, Ranti turut membantu Aidil mengidentifikasi barang di sekitar rumahnya berdasarkan bentuk dan fungsi. Setelah itu, Aidil diminta untuk menggambarkan barang-barang yang ada di sekitarnya. 

“Aidil memilih menggambar meja yang di atasnya ada televisi dan speaker. Saat menggambar Aidil ragu sekali. Dia memutar-mutar kertas. Dia menggaris, dihapus, begitu seterusnya,” tutur Ranti. 

Pentingnya memotivasi Melihat sikap tersebut, Iwan sebagai guru yang hadir di rumah Aidil memberikan motivasi serta mengarahkan peserta didik untuk menyelesaikan tugasnya. 

“Jangan ragu, jangan ragu, buat saja dulu. Tidak apa-apa salah, yang penting Aidil selesaikan dulu,” kata Iwan. Usai menggambar, Ranti meminta Aidil untuk menjelaskan gambar yang ia ciptakan sebagai penerapan tahap komunikasi. 

Dalam tahap komunikasi ini, Ranti menjelaskan bahwa peserta didik masih mengalami kesulitan dan kehilangan rasa percaya dirinya. Meskipun begitu, Ranti dan Iwan tetap memberikan motivasi dan mendampingi Aidil. 

“Pada saat menjelaskan ini, Aidil betul-betul sangat kesulitan sekali, kurang percaya diri. Kemudian cara penyampaiannya harus banyak dipancing sehingga saya dan Pak Iwan terus berusaha memotivasinya” ucap Ranti. 
Menutup sesi pembelajaran, Ranti pun memuji sisi positif Aidil dan memotivasinya agar mau terus belajar. “Hal ini penting untuk memberikan rasa percaya diri bagi Aidil,” pungkasnya.(RMH)



[Ikuti AmanahNews.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar