Renungan Pagi

Usulan Buku "Risalah Kebudayaan" Rantau Kuansing

Apendi Arsyad

Oleh: Dr.Apendi Arsyad

WAH  bagus itu ada usulan untuk menyusun buku "tex book", buku "risalah kebudayaan" sebagai pedoman mengenai seluk beluk produk-2 budaya Rantau Kuansing, tapi yg meriset dan menulis bukan, jangan sayalah ?

Awak ini apalah? adinda Dr.Apriyan, yang betul pilihan kita, tentunya yg consent soal karya buku "Risalah Kebudayaan" tsb adalah para antropologlah..awak ini apalah..
hanya menulis temanya "ngaro-ngidul" meminjam istilah orang Jawa. Saya hanya mampu menarasikan dengan menyentuh sedikit tentang pernik-2 kebudayaannya saja, sebagaimana yang telah wacanakan dalam beberapa artikel saya dan telah dimuat dalam WAG IKKS ini, seperti topik-2: Usulan Mega event Pacu Jalur, Kuliner Ala Cerenti, Karya sastra dan budaya Kuansing yg termarginalkan, Peranan gerakan Muhammadyah Cerenti dalam membangun negeri, Pengorbanan kerajaan Islam dari para Raja dan Sultan-2 Nusantara, problema pencemaran lingkungan PETI di DAS Kuansing, Problema Harga Karet/Ghotah krn tataniaga tidak adil, perampokan lahan perkebunan milik adat (land tenure rights) oleh para oligarki, Pemkab Kuansing tidak hadir dan gagal didalam melindungi Rakyatnya dari bencana pencemaran lingkungan (limba B3 air raksa PETI) dan termasuk budaya korupsi dan gaya hidup mewah (hedonist life style) kaum elite politik negeri yang mengabaikan kepentingan rakyat dan negeri, etc.

Serangkaian tulisan-2 yang saya buat untuk merefleksiksn berbagai potensi dan permasalahan serta nasib rakyat Kuansing yang memang butuh perhatian para cerdik pandai. Saya hanya mengarang artikel bersifat memberikan "a frame work", "mind set" saja, yang diharapkan bisa  membangkitkan gairah, kesadaran kolektif yg korektif (common awareness) dari para Dunsanak di kampuang, agar tidak tersesat (gagal-paham) sebagai main stakeholders dalam upaya memajukan nagori. 

Atau seperti yang pernah saya ungkapkan dalam sebuah tulisan saya. Saya ini hanya berperan sebagai seorang "muazin" saja di "mushollah" Forkom IKKS untuk mengajak urang awak dan para Dunsanak agar memiliki kepedulian terhadap perkembangan nagori rantau Kuansing, yang memang membutuhkan perhatian kita, berupa tindakan "ceck and balance" untuk membangun masyarakat madani (civil society). 

Terutama pada saat-2 situasi genting yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini, dimana para elite politik lokal dan elite birokrasi Pemkab.Kuansing.mengalami disorientasi, bias aspirasi rakyat, akibat rendahnya kapasitas individu (sdm) dan lumpuh dan tumpulnya peran dan fungsi institusi, sistem lembaga perwakilan rakyat.

Gejala ini terjadi dan tampak jelas pada kasus penanggulangan/pembasmian penambangan liar emas PETI, penangkapan Kades Sibarakun Kec. Benai krn konflik dengan coorporasi PT Duta Palma Nusantara milik oligarki taipan, yang telah merampas tanah ulayat di rantau Kuansing, sehingga masyarakat lokal tidak berdaya dibuatnya.  Apalagi berurusan dengan proses peradilan dan hukum, rakyat tidak pernah menang (selalu kalah) dalam berperkara, dsb. Hal ini membuktikan bahwa semakin kuat hegemoni dan cengkraman oligarki (kaum kapitalis) dalam hampir semua lini sektor dan bidang kehidupan masyarakat. Mereka saat ini, bukan saja menguasai bidang ekonomi (usaha industri dan perdagangan) tetapi juga sudah masuk ke dalam dunia politik, hukum dan pemerintahan akibat mahalnya biaya demokrasi (Pilpres, Pileg, Pilgub dan Pilbub/Pilwalkot) di negeri ini untuk memdapat posisi puncak kekuasaan Pemerintahan (the ruling party), yang membuat kaum saudagar yg  berpeluang besar menduduki jabatan publik tertinggi tsb. 
Oleh karena itu, kekuatan masyarakat sipil seperti forkom IKKS harus hadir guna mengimbanginya.

Sorry, bidang keahlian saya (ambo) "natural resource and environment management", spesifiknya coastal and ocean. Tapi memang pernah belajar sedikit sosiologi perdesaan, ilmu ekonomi dll karena sarjana/ S1nya kebetulan pada program studi sosial ekonomi perikanan di IPB University. Sisanya pengetahuan sosial budaya yang saya diperoleh dengan membaca dan mempelajari sejumlah literatur pola kebudayaan dari beberapa buku rujuukan, karena ada intrest and hobby semata-mata saja dalam diri saya. Alhamdulillah koleksi-2 buku ilmu pengetahuan sosial budaya, sosek dan sospol, filsafat, etc (social science) termasuk pemikiran keagamaan "cukup" tersedia di perpustakaan pribadi di gubukku di Ciawi Bogor.

Add Dr.Apriyan !
Saya memang tahunya sedikit, soal budaya hanya "kulit"nya saja, sedangkan substansinya ada pada para ilmuan antropologi dan atau archeologi serta para budayawan.

Hayoo para pakar, llmuan/dosen yg ada di sejumlah Univesity di Provinsi Riau, yakni para antropolog dan sosiolog, sejarawan,  serta budayawan berperanlah untuk menggali (riset), mengembangkan literatur dan mempromosikan serta membukukan kebudayaan (local wisdoms) Rantau Kuansing yang sudah ada tsb sebagaimana usul Dr.Apriyan Dinata. 
Hal itu sejalan dengan tulisan beberapa waktu
lalu dengan topik Karya Sastra dan Budaya Melayu Islam Riau, bunda kandung Bahasa Indonesia, yang juga merupakan kebudayaan masyarakat lokal Kuansing yg termarginalkan.

Jadi saya sependapat dan setuju perihal apa yg dikemukakan dalam WAG ini oleh Dr.Apriyan/Dosen FT UIR Pekanbaru, kolumnis produktif. Kita memang perlu ada terbitan buku "Risalah Kebudayaan" Rantau Kuansing sebagai indikator kemajuan sebuah negeri. Para wisatawan domestik (wisnu) apalagi wisman biasanya membutuhkan buku Risalah Budaya tsb sebagai informasi daya tarik wisata budaya. Hayoo !... para cerdik pandai Kuansing bangkitlah, sekarang sdh saatnya kita berpikir dan berbuat untuk nagori kito.... ok baik, tks, semoga ada yg menginisiasi, selamat  berjuang dan berkiprah untuk memajukan nagori kita, rantau Kuansing    
Moto Kuansing
"Basatu nagori maju, tali tigo sapilin, Salam kayuah" (Majulah terus, jgn jalan di tempat, apalagi mundur, rugi kito). Sukron barakallah.????

Wassalam.
=====   
Dr.Apendi Arsyad (Pendiri-Dosen UNIDA Bogor, Konsultan dan Pemerhati Sosial)



Tulis Komentar