"Kini Tuk Panyol Labisa Golak Kunyam"
Oleh : Sahabat Jang Itam & Tim
TAK sia-sia Mak Lenggang jauh jauh datang dari kampung halamannya di Siberakun ke Pekanbaru. Mimpinya sejak pensiun mendirikan sekolah berkarakter ternyata disambut sahabat-sahabatnya di perantauan.
"Gayuang mamak kini basambuik. La lamo mamak ingin mendirikan sekolah berkarakter di Kuantan Singingi. Kini samangek mamak muncul kembali," kata Mak Lenggang dengan nada terbata-bata.
Air mata kebahagiaan Mak Lenggang kelihatan di pipinya yang mulai keriput. "Ya...Tuheen mangapo kini mamak baru basuo dengan kalian...Tuhen...Tuhen,"
Adalah Datuk Bisai yang menginisiasi "maota lomak" di rumah inyo di Pekanbaru. Pertemuan spesial itu dihadiri Tuk Panyol, cucuang Tuk Leman, mamak upiak dan sopir pribadinya yang baru pulang dari LA dan lainnya.
Kendati rambutnya sudah memutih, giginya satu persatu sudah berganti, namun semangat '45 Mak Lenggang masih kelihatan. Semangat Mak Lenggang memang patut di tiru oleh generasi zanam now.
Kata cucu Tuk Leman, ibarat pacu, kalau Mak Lenggang sudah turun ke gelanggang semuanya beres.
"Bubur pun bisa kembali jadi nasi di tangan Mak Lenggang. Pemikirannya masih up to date.
Dari pinggang ke ate umur Mak Lenggang hampir kepala tujuh. Dari pinggang ke bawah kayak ABG umur 17-an....hahaha," ujar cucu Tuk Leman.
Suasana jadi cair. Apalagi Tuk Bisai selaku tuan rumah punya selera humor yang tinggi pula. Sesekali dia menyelah."
Kalau Mak Lenggang mendukung kita kita ratakan....hahaha," ujar Tuk Bisai sambil menyajikan kopi racikannya sendiri yang bau harumnya sampai ke langit ke tujuh.
Tuk Panyol pun tak mau ketinggalan. Kini dia sudah bisa golak kunyam. Sebelum mengeluarkan jurus mautnya, dia kelihatan seperti orang bersemedi.
Mulut Tuak Panyol terlihat komat kamit. Rupanya dia membacakan penggalan mantra urang mambang durian dengan khusuk dan penuh harap.
Guluang guluang ijuak Tagulangi anak buayo Anak buayo mati patah Tujuah bukik tujuah lurah
Turunkan angin sangkar kalo
Tuk Panyol berharap semoga lobuak lobak handaknyo durian tembago jatuah.
Kuuriiikii..
Terhadap persoalan itu:
Kok Satitiak tolong jadikan lauik
Kok sakopal jadikan gunuang
Saciok bak ayam
Sadonciang bak bosi
Ka bukik samo mandaki
Ka lurah samo manurun
Kok duduak samo rondah
Togak samo tinggi
Kok Borek samo dipikual
Ringan samo di jinjiang
Bulek ayiar di pembuluah
Bulek kato dek mupakat
Alam takombang jadikan guru
Panjang umuar singkek permintaan bekicau
Murai bakulik olang
Tarobang arwah badan
Talotak di ateh tilam
Bantal sarugo tatogak
Marawah basah gonok jo tonggo
Pameran adat tadendeng
Tabiar bamacam ragam
Tagantuang tirai di langik langik
Tatanan tungkek pusako
Lamo panungkek pusako Datuak ola malotui
Bodial salotui ola babunyi
Tabuah sadindin di sudahi
Tabuah jumaat tando alamat pusaka di sanjuang
Warih bajawek pusako batarimo.
Kuuriikii... Kuuriiki... kuuriiki.
Soal petatah-petitih, Tuk Panyol memang pakarnya. Namun diakui ma-ota lomak malam itu, Mak Lenggang yang jadi bintangnya. Cucu Tuk Leman dan Mamak Upiak yang jadi peningkahnya.
Sementara hari mulai gelap, randai baputar sekali lagi.
"Permisi kami dulu Tuk Bisai. Hari sudah malam, kami ba baranjak dulu. Sopir pribadi Mamak Upiak la litak, nak istirahat kami dulu, Tuak Bisai" ujar cucu Tuk Leman kepada tuan rumah.
Itu hanya alasan cucu Tuk Leman saja. Alasan sebenarnya adalah perutnya sudah lapar. Kecek Mak Lenggang nan di rumah la kirim pesan via whatsapp ke cucuang Tuk Leman...hahaha.
Sesampai di rumah, Tuk Panyol menulis sepucuk surat kepada rekan-rekannya.
Assalamualaikum
Selamat pagi.
Setelah melalui jalan berliku niat kita untuk mendirikan Perguruan Tinggi Seni Budaya Kuantan Singingi tidak menemukan jalan mulus. Kami mundur selangkah dan mencoba mengajukan Prodi SENI BUDAYA ke UNIKS.
Dulunya dengan teman-teman kami sudah masuk pada tahap menyusun dan mengisi borang bersama dengan Rektor UNIKS. Namun setelah rektor memperjuangkan ke yayayan UNIKS ternyata menemui jalan buntu untuk mendapatkan kesepakatan.
Yayasan menganggap Prodi Seni Budaya atau Seni Pertunjukan belum bisa dibuka di UNIKS. Sebab, prodi-prodi yang lama saja belum begitu kokoh.
Jadi yayasan masih fokus konsentrasi untuk membenahi prodi-prodi yang lama dulu belum bisa membuat prodi yang baru. Apa lagi prodi seni budaya karena takut tidak ada peminatnya dan banyak lagi alasan-alasan lainnya.
Atas dasar masalah itu saya bicara dan bergerilya terus bagaimana supaya di Kuantan Singingi tetap ada berdiri tempat pendidikan Seni Budaya yang resmi.
Saya menyampaikan masalah ini di WAG forum keluarga besar iIKKS/IWAKUSI se-Indonesia, akhirnya dialog demi dialog panjang dengan sekian banyak orang di IKKS/IWAKUSI se-Indonesia yang di dalamnya banyak akademisi, praktisi, peneliti, dan pengusaha bercampur di dalamnya.
Akhir dari dialog dan pembicaraan-pembicaraan itu tadi malam kami di ajak berkumpul Erdiyanus Herman Halim Tuak Bisai di rumah kediamannya.
Akhirnya kita menemukan kata sepakat membuat tim merumuskan satu proposal untuk mendirikan Sekolah Seni Budaya Kuantan Singingi.
Targetnya Agustus nanti sudah harus jadi proposal nya untuk segera di presentasikan ke beberapa instansi terkait. Jadi dengan tidak dapatnya kita membuat Perguruan Tinggi Seni Budaya maka kita usulkan buat Prodi Seni Budaya di UNIKS dan itu juga tidak dapat kata kesepakatan.
Langkah terakhir kita mencoba membuat proposal usulan mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Seni Budaya di Kuantan Singingi.
Sasarannya bagaimana nanti lulusan sekolah ini bisa jadi guru kesenian di SD dan SMP di seluruh pelosok Riau.
Setelah Sekolah Seni Budaya itu baru kita akan mendirikan Akademi Seni Budaya, Sekolah Tinggi Seni Budaya lantas di lanjutkan ke perguruan Tinggi Seni Budaya.
Semoga langkah ini Allah mudahkan dan ijabah niat baik kita-kita orang Kuantan Singingi semua yang terlibat dalam suatu komunitas seni budaya asal Perguruan Tinggi Seni.
Aamiin ya robbal alamiin.
Wassalam
Epi Martison
Publikasi: Forum IKKSIWAKUSI INDONESIA
Tulis Komentar