Citra Satelit Google

Terungkap Ada Aktivitas Tambang di “Belakang” Kantor Bupati Sijunjung, Warga Kuansing Tuding Pemicu Air Kuantan Keruh di Hilir

Citra satelit Google Earth menangkap aktivitas pertambangan di Sungai Batang Palangki, tepatnya berada tidak seberapa jauh di belakang Kantor Bupati Sijunjung. (foto gr/ist/google earth)

TELUKKUANTAN (ANews) – Barangkali ini bisa menjadi “tamparan” telak bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, baik itu Bupati Sijunjung,  Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan bahkan juga instansi yang menangani bidang pertambangan.

Betapa tidak, pada saat ini berdasarkan citra satelit Google Earth menangkap adanya aktivitas pertambangan “liar dan ilegal” yang sangat serius di sejumlah sungai yang bermuara ke Sungai Kuantan.

Ironisnya lagi, lokasi pertambangan yang berdampak serius terhadap lingkungan itu justru terdeteksi citra satelit Google Earth berada beberapa ratus meter saja di belakang Kantor Bupati Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar), tepatnya di Sungai Palangki.

Sejauh ini belum bisa dikonfirmasi ke instansi terkait apakah lokasi tambang di belakang Kantor Bupati Sijunjung itu mengantongi izin atau ilegal. Tetapi yang jelas menurut informasi yang didapat AmanahNews sejak awal beroperasi aktivitas PETI di Batang Palangki dan sejumlah sungai lain di Sijunjung seolah dibiarkan dan tidak tersentuh aparat penegak hukum.

Selain terdeteksi citra satelit Google, warga Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau pun kini menuding dan menyatakan aktivitas tambang tersebutlah menjadi penyebab keruhnya air Sungai Kuantan di bagian hilir. Ini tidak bisa dipungkiri karena sejumlah sungai yang hulunya berada di Kabupaten Sijunjung mengalir ke hilir menjadi Batang (Sungai) Kuantan.

“Aktivitas tambang ini tidak hanya marak di Kuansing, tapi juga di daerah Sijunjung, hulu dari Sungai Kuantan. Dari Google Earth bisa kita lihat, begitu banyak tambang di Sungai Batang Palangki, sungai ini bermuara ke Sungai Kuantan. Itu penyebab air Kuantan keruh," kata Putra, warga Kuansing, Ahad (3/8/2025) di Telukkuantan sebagaimana dilansir AmanahNews dari GoRiau, Selasa (5/8).

Muara Sungai Palangki ke Sungai Ombilin atau Kuantan, terlihat perbedaan air antara keduanya Batang Palangki berwarna kuning keruh sedangkan Batang Ombilin tampak jernih. (foto :gr/ist/google earth)

Sungai Palangki Keruh

Citra satelit juga menangkap kondisi muara Sungai Palangki. Dimana, pertemuan Sungai Palangki terlihat sangat keruh dan kontras dengan air Sungai/Batang Ombilin/Kuantan.

“Kalau kita ingin agar air Sungai Kuantan ini jernih seperti semula, operasi Pertambangan Tanpa Izin (PETI) harus dilakukan secara menyeluruh, jangan hanya di Kuansing saja, tapi juga gencar dilakukan di Sijunjung," kata Putra.

Seperti diketahui jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Riau yang dipimpin langsung Wakapolda Riau Brigjen (Pol) Jossy Kusumo sejal dua pekan gencar merazia dan menindak para pelaku PETI yang beroperasi di sepanjang Sungai Kuantan. Tindakan tegas Polda Riau itu tidak saja dengan merazia dan menertibkan PETI, akan tetapi jajaran kepolisian juga menangkap para pelaku dan membakar semua peralatan PETI yang ditemukan di lapangan.

Aktivitas tambang di Sungai Palangki, sungai ini bermuara ke Sungai Kuantan. (foto gr/ist/google earth)

Melihat sikap tegas polisi tersebut, masyarakat Kuansing pun kini mendukung Operasi Penertiban PETI yang dilakukan oleh Polda Riau. Operasi ini dilakukan selama dua minggu dengan target memberangus PETI, sehingga air Kuantan kembali jernih saat pelaksanaan festival pacu jalur bulan Agustus 2025 ini.

“Kami sangat berharap semoga setelah operasi ini, tidak ada lagi PETI di sepanjang Sungai Kuantan sekitarnya. Sebab, kami rindu Sungai Kuantan yang jernih, sungai yang menjadi pusat peradaban sejak dulu,” kata Putra. (***/GR)



Tulis Komentar