Daerah

LAMR Pasangkan Tanjak pada Capres Anies, Serahkan Buku dan Gagasan

Ketum DPH LAMR Datuk Seri Drs. H. Taufik Ikram Jamil, M.Ikom memasangkan tanjak kepada calon presiden (capres) Anies Rasyid Baswedan di Pekanbaru, Rabu (13/12/2023). (F:ist-ANews)

PEKANBARU (ANews)  - Atas nama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (Ketum DPH) LAMR Datuk Seri Drs. H. Taufik Ikram Jamil, M.Ikom, tidak hanya memasangkan tanjak kepada calon presiden (capres) Anies Rasyid Baswedan, tetapi juga menyerahkan sejumlah buku dan gagasan kepada tokoh tersebut.

Hal ini disampaikan dalam peyambutan dan jamuan makan siang yang antara lain disaksikan Gubernur Riau Brigjen TNI (Purn) Edy Natar Nasution, Rabu (13/12/2023).  

“Ya, kita memenuhi undangan tim Pak Anies untuk menyambut dan menemani makan siang,” kata Datuk Seri Taufik kepada media, seraya mengatakan bahwa pihaknya, insyaallah akan berlaku serupa kepada pihak lain jika diundang semacam itu. Tapi LAMR tidak terlihat di titik-titik kampanye Anies seperti di Pasar Sail dan Gelanggang Olahraga (GOR).

Diakuinya, panitia juga sempat meminta capres Anies Baswedan dibawa ke balai LAMR untuk ditepuktepungtawari. Tetapi mengingat waktu, upacara adat tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Dinformasikan bahwa pesawat Anes mendarat sekitar pukul 09.45. Setelah disalami Gubernur Edy Natar Nasution,  Ketum DPH Taufik Ikram Jamil, memasangkan tanjak kepada Anies. Setelah itu, Anies disuguhkan silat sambut yang diiringi gendang panjang dan nafiri. Selanjutnya, Anies dibawa ke ruangan untuk sekedar membasahi kerongkongan dengan teh, dibilas sedikit soto dan kue-mue khas Melayu Riau.

Dalam kesempatan itu, Datuk Seri Taufik meyerahkan dua buku kepada Anies yang bertajuk “Ungkapan Tradisional Melayu Riau” karya Tenas Effendy dan “Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Biografi Kesaksian” karya Taufik Ikram Jamil. “Wah, ini santapan rohani,” kata Anies sebagaimana ditirukan Datuk Seri Taufik kepada media. “Pak Anies juga mengatakan, ini presiden kita semua setelah melihat buku biografi Sutardji,” tambah Datuk Seri Taufik.

Menurutnya, pemberian buku-buku itu juga sebagai simbol bagaimana Riau amat memperhatikan bahasa dan ekspresinya. Di tengah inflasi bahasa pada masa komunkasi ini, pemurnian kata-kata dinilai sesuatu yang niscaya. Harus dipendam sedemikian rupa untuk menjadikan bahasa sebagai saluran kebencian dan dendam-kesumat yang begitu marak.

Sementara soal gagasan, Datuk Seri Taufik kepada Anies mengatakan, LAMR berharap diwujudkannya Kementerian Kebudyaan. Sebab sejak lama sebenarnya, kebudayaan tidak cukup diurus satu direktorat saja, karena tugasnya semakin banyak. Apalagi berhadapan dengan kecenderungan abad 21 yang menggantungkan nilai kemanusiaan melalui budaya/ tradisi dan agama.  Tidak mengherankan banyak hal yang dikerjakan untuk kebudayaan, tidak terlaksana sama sekali.

“Sudah 15 tahun rancangan undang-undang masyarakat hukum adat terdampar di DPR, belum juga disahkan sebagai salah satu buktinya” kata Datuk Seri Taufik. Padahal dengan undang-undang itu, dasar pijak pembangunan masyarakat adat tersedia maksimal, sehingga mereka tidak terus- menerus terpuruk dalam ketertinggalan dengan pembelaan yang abu-abu tanpa masa depan secara lebih pasti.  

Dalam kaitan itu, Datuk Seri Taufik mengingatkan bahwa 1,2 juta hektar kebun sawit di Riau ilegal yang sebagian berupa lahan ulayat atau milik adat. Belum lagi berkaitan dengan pancung alas yakni bagian milik masyarakat adat dalam pengolahan sumber daya alam yang diakui oleh Belanda, tetapi terabaikan setelah merdeka. “Kesemuanya tak berdaya karena aturan yang memayunginya sebagai khazanah budaya tidak ada,” kata Datuk Taufik.

Memang benar, Indonesia sudah memiliki undang-undang kemajuan kebudayaan sejak tahun 2017. Tetapi dasar hukum ini lebuh banyak mengatur soal ekspresi termasuk masyarakat adat, padahal persoalan masyarakat adat amat besar karena berkaitan langsung dengan elemen-elemen kehidupan seperti ekonomi dan lingkungan hidup.

Ditanya, bagaimana tanggapan Anies terhadap hal-hal itu, Datuk Seri Taufik mengatakan, dia memperhatikan dengan serius, bahkan beberapa hal dimintanya untuk disebut ulang sebagai tanda perhatian. “Yang jelas, kita harus menyuarakan semuanya kepada sesiapa pun, apalagi dalam kesempatan semacam ini,” kata Datuk Seri Taufik. (*/rls)



Tulis Komentar