Tenun Khas Tradisional Ranah Minang

"Songket Unggan" Mahakarya Dari Tangan Para Ibu

Beberapa motif kain Songket Unggan. Songket ini dikerjakan para petenun dengan tangan. (Foto: fiz/anews)

SIJUNJUNG ANEWS – Songket Unggan? Ya...kain tenun hasil para pengrajin anak Nagari Unggan, Kecamatan Sumpur Kudus di Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat ini, sekarang memang tengah naik pamornya di jagat para pecinta tenun tradisional.

Betapa tidak, songket Unggan murni buah karya dari tangan kaum wanita di nagari ini. Ditenun secara tradisional oleh para wanita, ratusan ibu rumah tangga di Unggan. 

Walaupun Nagari Unggan terbilang jauh di pedalaman Sijunjung, sekitar 178 km arah timur Kota Padang, Songket Unggan merupakan salah satu Mahakarya anak nagari yang sejak beberapa tahun belakangan sudah menjadi ikon yang sangat diminati para pecinta kain tenun tradisional.

"Kekhasan Songket Unggan ini terletak pada proses penunannya yang benar-benar murni dikerjakan dengan tangan tanpa sentuhan alat atau mesin moderen. Motif-motif songket ini juga terinspirasi dari alam, lingkungan Nagari Unggan," ungkap Mira, salah seorang generasi muda Unggan yang getol mengembangkan dan memasarkan kain Songket Unggan.

Selain menjadi salah satu sumber penghasilan untuk meningkatkan perekonomian, kesibukan warga yang membuat kerajinan Songket di Nagari Unggan ini, juga menjadi penangkal terutama bagi kaum perempuan dari hal-hal atau pengaruh yang negatif.

Makanya tidak terlalu aneh jika berkunjung ke Unggan, kita akan menjumpai seluruh rumah warga memiliki alat untuk merajut Songket. Seluruh perempuan di Nagari ini, dipastikan mampu membuat songket dengan kualitas tinggi.

Data yang dihimpuan Wartawan "AmanahNews.Com" mencatat, hingga kini setidaknya lebih 200-an rumah tangga yang secara rutin terjun sebagai pengrajin songket. Mereka saban hari menenun di rumah-rumah mengisi aktifitas sehari-hari, selain sebagai petani, ibu rumah tangga dan lain-lain.

Kendala Pemasaran

Walaupun produk kain tenun Songket Unggan sudah rutin dalam jumlah  banyak, namun dari segi pemasaran masih menjadi kendala utama. 

Daya jual Songket Unggan sampai sekarang masih terbilang kalah bersaing dengan produk sejenis hasil karya tangan masyarakat Sumbar, seperti songket Pandai Sikek di Tanah Datar atau lainnya.

"Sebetulnya kain Songket Unggan ini bukan kalah bersaing dalam pemasaran. Akan tetapi, karena belum tersentuh pola pemasaran secara moderen mengakibatkan kain Songket Unggan masih sukar menembus pasar global. Apalagi para pedagang songket di Sumbar seperti memiliki jaringan yang tertutup, mereka memproteksi produk-produk songket baru, nama baru dan dari sentra songket baru," kata Mira.

Dari sisi kualitas, kata Mira, songket Unggan jelas tidak kalah, bahkan jauh berkualitas dan halus. Namun, karena belum punya nama kerap kali para pedagang songket menjual dengan "brand" atau "merk" lain.

Peluang pasar terbuka lebar di mana-mana. Hanya saja, mereka kadang-kadang mencatutnya dengan nama produk songket daerah lain. 

"Para pedagang kain songket di pasar  Bukittinggi misalnya, selama ini selalu menampung Songket Unggan. Ini jadi bukti bahwa songket Unggan diterima pasar, ada konsumennya. Namun ironisnya, mereka menjual bukan dengan nama Songket Unggan tapi atas nama Songket Pandai Sikek, Songket Silungkang dll," kata Mira dengan nada geram.

"Warga Unggan yang kerja keras, tapi daerah lain yang mendapat nama. Kita benar-benar prihatin. Makanya ke depan, kami berharap Pemkab Sijunjung turun tangan langsung membina para perajin songket di Unggan. Pembinaan bukan saja secara teknis agar produk songket lebih variatif dan halus, tapi membina bagaimana agar "brand" Songket Unggan tidak dicatut pedagang," ucap Mira menambahkan.

Berkembangnya petenun songket di Unggan akhir-akhir ini, maka nagari itu memang layak dijuluki "Kampuang (nagari) Songket". Sampai saat ini setidaknya terdapat sekitar 260 ibu rumah tangga yang mahir dan aktif menenun songket Unggan.

Menurut Asni dan Yul, dua pengrajin songket di Unggan, kreatifitas para petenun kini terus diasah baik dengan pelatihan maupun secara mandiri. Salah satu bukti adalah lahirnya motif-motif Songket Unggan yang jadi unggulan dan sangat digandrungi konsumen. 

Dari beberapa motif Songket Unggan, kini ada dua motif asli dan khas yang menjadi andalan yakni motif Lansek Manih, dan Unggan Saribu Bukik.

“Songket motif Lansek Manih dan Unggan Saribu Bukik yang banyak dibeli. Kita jual ke Bukittinggi dan Payakumbuh. Harganya dari Rp300 ribu hingga Rp3,7 juta per songket,” kata Asni.

Penulis: Hafizan Shidqi



[Ikuti AmanahNews.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar