Akibat Penyakit Gugur Daun

Produk Karet Indonesia Diperkirakan Turun 15 Persen

Salah seorang petani karet tengah menyadap getah karet di kebunnya. (Foto: net/anews)

JAKARTA ANEWS - Produk karet Indonesia diperkirakan turun 15% secara nasional pada tahun 2019. Penurunan ini disebabkan karena mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Per 16 Juli 2019, penyakit ini telah menyerang provinsi sentra karet antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur seluas 381,9 ribu hektare (ha). Angka tersebut meliputi serangan ringan seluas 149,6 ribu ha dan serangan berat seluas 232,4 ribu ha. Serangan penyakit ini diperkirakan akan terus bertambah.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Kasdi Subagyono mengatakan, akibat dari serangan penyakit ini, tanaman karet mengalami gugur daun berulang dalam periode yang panjang bahkan di luar periode gugur daun alami yang secara langsung menurunkan produksi.

Dari serangan itu kami prediksi berdampak pada penurunan produksi karet 15% atau sekitar 540.000 ton dari luas yang mencapai 3,66 juta ha," ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Eskalasi dan intensitas serangan penyakit gugur daun ini sejak tahun 2017 hingga 2019 mengalami peningkatan yang signifikan. Pertama kali penyakit ini ditemukan di Provinsi Sumatera Utara dan kemudian menyebar ke Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Penyakit ini pun diperkirakan terjadi juga di provinsi sentra karet lainnya antara lain Jambi, Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, dan Lampung.

Berdasarkan laporan dari Lembaga Getah Malaysia (Malaysia Rubber Board) serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp. juga terjadi di Malaysia, terutama di daerah semenanjung Melaka.

Menurut Kasdi, munculnya penyakit ini terutama disebabkan menurunnya ketahanan tanaman akibat ketidakmampuan petani/pekebun untuk merawat kebun sesuai standar. "Ini utamanya dikarenakan turunnya harga karet pada level rendah dalam rentang waktu lama," ungkapnya.

Adapun upaya pemerintah dalam membantu petani untuk mengendalikan penyakit tersebut meliputi pengendalian dengan menggunakan fungisida berbahan aktif heksakonazol atau propikonazol dan memberikan bantuan pupuk untuk meningkatkan ketahanan tanaman karet terhadap serangan penyakit tersebut.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo mengatakan, penurunan produksi karet akan berdampak juga pada ekspor karet. Gapkindo mencatat adanya penurunan ekspor karet sebesar 200.000 ton sepanjang semester I/2019. "Kami mengeluhkan bahan baku berasa kurang. Ini pertama kali di mana terjadi penurunan ekspor karet ratusan ribu ton," tuturnya.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, pemerintah akan terus memantau dan memperbarui data serta informasi mengenai perkembangan serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp. berikut penanganannya.

Seperti diketahui, perkebunan karet Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat (85%) dan menciptakan lapangan kerja bagi 2,5 juta KK dengan rata-rata luas kepemilikan lebih dari 1,25 ha. Karet merupakan salah satu andalan ekspor yang berkontribusi besar terhadap devisa negara. Volume ekspor mencapai 2,99 juta ton dengan nilai USD5,10 miliar.

Adapun mengenai harga karet, Musdhalifah menjelaskan bahwa telah mengalami peningkatan sejak bulan Januari 2019. Saat ini, harga karet TSR 20 di tingkat internasional berada di atas USD1,4/kg.

"Pemerintah akan terus menjaga produktivitas dan harga karet alam, termasuk dengan menangani penyakit gugur daun karet ini, peremajaan karet rakyat, maupun upaya-upaya lainnya," tandasnya. (sin/zet) 



[Ikuti AmanahNews.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar